Selama ini, sejak Gubernur taon satu hingga sekarang masalah yang disandang oleh Jakarta adalah "banjir" dan "macet". Ya, benar masalah itu tetap melekat hingga sekarang. Namun saya sebagai putra daerah merasakan keprihatianan yang mendalam setelah mengapresiasi pernyataan Bapak Emil Salim selaku Menteri PLH pada era Orde Soeharto satu dekade yang lalu, beliau menyatakan bahwa jika perkembangan kota Jakarta menuju kota Metropolitan tanpa diimbangi dengan penggunaan air tanah yang baik, tetapi semrawut seperti sekarang ini. Dimana setiap rumah pemukiman penduduk menggunakan air tanah dengan menggunakan jet-pump yang akan menguras cadangan air tanah dan menciptakan rongga dalam tanah yang akan dialiri oleh resapan air laut (abrasi) dari belahan utara menuju arah selatan kota Jakarta. Maka diperkirakan pada tahun 2010 yang akan datang kota Jakarta akan "tenggelam".
Hal itu terbukti terjadinya banjir besar yang melanda dan "menenggelamkan" kota Jakarta antara tahun 2009-2011 dan kemudian terjadi pada tahun 2012 yang lalu dimana menyebabkan kota Jakarta lumpuh total. Bahaya yang ditimbulkan dengan penggunaan air tanah di Jakarta tidak hanya itu saja, tetapi yang lebih mengerikan lagi adalah resapan air laut yang sudah merasuki jantung kota akan menggerogoti pilar-pilar beton; merapuhkan pondasi bangunan-bangunan pencakar langit yang ada di pusat kota Jakarta, dan tidak mustahil bangunan-bangunan itu suatu saat akan "ambruk".
Tidak mengherankan jika permukaan tanah di sebelah utara Jakarta setiap tahun turun, bangunan dan jalan ambruk tanpa sebab; abrasi air laut telah mencengkeram belahan utara kota Jakarta. Keadaan itu mungkin belum seberapa bila mengingat bagaimana pesatnya pengerjaan reklamasi mengelola pantai Jakarta menjadi bangunan-bangunan beton yang kokoh berupa apartemen dan lainnya yang akan menahan deburan ombak yang semestinya merupakan daratan pantai yang landai.
Dan "anak-anak Krakatau" yang masih aktif di dasar laut selat Sunda juga akan menambah keramaian bila "mereka" secara bersama-sama menumpahkan kemarahannya, hingga menimbulkan deburan ombak yang tinggi (tsunami) yang akan menyapu belahan utara kota Jakarta.
Areal resapan air di permukaan kota Jakarta yang akan menampung air hujan sudah tidak terlihat lagi terlibas oleh lapisan aspal dan beton yang menyebabkan air hujan langsung mengalir ke muara. Hal ini juga yang mengukuhkan intervensi abrasi air laut di dalam tanah merasuki jantung kota Jakarta hingga ke arah selatan sebagai benteng terakhir kota Jakarta.
Akankah bangunan-bangunan komersial dan apartemen yang telah mengeruk banyak keuntungan dari penduduk Jakarta juga akan menebarkan kerugian yang besar pula. Keuntungan yang belum tentu mereka nikmati akan keberadaan bangunan-bangunan tersebut, tetapi kerugiannya sudah mereka terima sebagian dengan limpahan banjir yang selama ini mereka alami.
Mengapa areal resapan air yang semestinya menampung air hujan hingga ke dasar tanah, tetapi tertutup hanya untuk areal parkir, areal lintas masuk keluar gedung, dan areal lainnya yang tidak banyak berguna bagi orang banyak?. Mengapa permukaan areal itu tidak menggunakan lintasan yang meresap air hujan?
Apakah dalam benak pengusaha, hal itu akan menurunkan omset usaha mereka? mengurangi aestetika? kurang komersial?
Pertanyaan-pertanyaan konyol itu harus dihapuskan dari benak mereka dengan peraturan tegas dari Pemerintah agar tidak terus merugikan penduduk Jakarta yang lebih besar lagi.
Cobalah kita berandai-andai bila ada ribuan m2 dari areal resapan air setiap bangunan komersial di Jakarta dikali ratusan bangunan yang tersebar di seantero Jakarta.
Insya allah, hal ini akan mengurangi masalah banjir di Jakarta dan masalah abrasi air laut di tanah kota Jakartaku tersayang. Amin ya robbal alamin!
Chairuddin Oesman (Chairoes)