Jumat, 24 Agustus 2012

KECELE

Siang itu Tono dan Udin sedang berjalan di daerah Pasar Minggu usai menghadiri pertemuan reuni. Di tengah jalan mereka bertemu dengan kerumunan orang yang sedang melihat peristiwa kecelakaan di jalan raya. Tono, orang yang selalu ingin tahu, lalu dia berkata kepada Udin, "Din, kita lihat kerumunan itu yu!" ajaknya. "Ah, itukan cuma kecelakaan biasa, kenapa kita harus lihat sih!" Jawab Udin kesal. "Apalagi banyak orang berkerumun begitu, bagaimana kita bisa kedepan mereka.". lanjutnya.
"Tenang saja Din, pokoknya kita akan sampai paling depan dari mereka, elu ikutin gue ajah deh!" Tegas Tono sambil tangannya menarik tangan Udin untuk mengikutinya. Akhirnya Udin pun mengikuti Tono dengan berbagai pertanyaan dalam benaknya, bagaimana mereka dapat meliwati kerumunan orang itu untuk berada di jajaran depan.
Dengan serta merta Tono masuk kedalam kerumunan orang sambil tangannya menyibak orang-orang yang berada di depannya seraya berkata, "Awas, minggir, saya bapaknya !". Ucapan itu diulang-ulang Tono hingga mereka sampai dijajaran depan, di depan korban kecelakaan. Namun saat mereka berhadapan dengan korban yang terkapar di jalan itu, Tono berkata lirih, " Din, yang mati itu monyet !". Sambil balik badan berjalan menghindari tatapan orang-orang di sekelilingnya. "Ton, elu engga bawa pulang anak lu itu!", kata Udin mengejek. Tono yang terus berjalan tanpa menoleh pada orang-orang disekitarnya. Malu tuh!.

Kamis, 23 Agustus 2012

SALAH PAHAM

Dadang dan Udin siang itu sedang berjalan menelusuri jalan alteri yang ditumbuhi dengan pepohonan rindang di sepanjang tepi jalan tersebut. Suatu ketika Dadang ingin "buang air kecil", namun di sepanjang jalan itu tidak ada WC umum yang bisa memenuhi hasratnya itu. "Din gue mau kencing, dari tadi gue tahan-tahan, rasanya sekarang engga bisa lagi nih!." Sambil matanya memandang sekeliling, berharap ada WC Umum. Namun tidak ada yang bisa diharapkan, akhirnya Udin memberi usul kepada Dadang, " Dang, namanye juga darurat udeh buang di belakang pohon itu aje !" Sambil tangannya menunjuk salah satu pohon dekat halte bus. Akhirnya Dadang pun tanpa pikir panjang langsung menumpahkan hasrat "kencing"nya di balik pohon yang berbatang besar itu. Namun tidak disangka-sangka seorang wanita setengah baya muncul dari tikungan jalan menuju halte bus dimana mereka berada. Saat ia berdiri menunggu bus datang, mata wanita itu tidak lepas memandangi Dadang dari ujung kaki hingga ujung kepala. Baru saja Dadang menyelesaikan "tugas"nya, dia dihampiri oleh wanita setengah baya itu dan langsung menghardiknya. " Dasar laki-laki kurang ajar, tidak tahu diri, tidak tahu sopan santun, dst .., dst...!" ucap wanita itu geram kepada Dadang yang terlihat terkesima dengan kemarahan wanita itu. Udin merasa iba melihat hal itu, dan dia bertanya kepada wanita, " Tante ada apa sih, kok segitu marahnya dengan kawan saya?". "Itu kawannya tidak tahu malu "kencing" sembarangan seperti binatang." Jawab wanita itu kesal. "Sudahlah tante, ini kan tempat umum banyak orang lalu lalang, maafkan kawan saya!" katanya membela Dadang. "Inikan hanya masalah kecil... !" lanjutnya.
Namun belum sempat Udin menyelesaikan ucapannya, tante itu menyela " Apa yang kecil orang saya lihat besar kok!".


OBAT KHUSUS

Seorang laki-laki berperawakan besar memasuki sebuah toko obat dari raut wajahnya dia kelihatan dalam keadaan marah kepada pemilik toko. "Hai, koh !, minggu yang lalu saya beli obat "anti mabuk" di sini, tapi nyatanya obat ini tidak mujarab, saya tetap mabuk dalam perjalanan !". kata orang itu kasar kepada pemilik toko sambil menunjukkan kemasan obat "anti mabuk" yang pernah dibelinya disitu. " Engkoh jangan coba-coba menipu saya ya! Saya ini aparat negara dari Angkatan ." lanjutnya geram.
Dengan tenang engkoh penjual obat itu bertanya, " Bapak angkatan dari Kepolisian ya? ". "Maaf pak, obat "anti mabuk" ini hanya berlaku untuk Darat, Laut dan Udara !". lanjutnya dengan tenang.

Selasa, 21 Agustus 2012

BERAT BERSIH 25 KG


Hari ini Jali memasuki jenjang perkawinan dengan seorang gadis ting-ting, sejak pagi sudah berdatangan tamu dari keluarga dan kerabat dekatnya. Kini hari telah menjelang malam, dimana kedua mempelai akan memasuki kamar pelaminan yang telah disiapkan. Seperti biasanya pada setiap acara perkawinan selalu "konco-konco" menemani di teras rumah sambil bermain kartu remi atau gaple menghabiskan malam pertama sang pengantin.
Dengan diiringi senyum konco-konconya, Jali menggandeng mesra istrinya masuk ke dalam kamar pelaminan. Tak berapa lama mereka masuk ke dalam kamar, namun tiba-tiba terdengar teriakan histeris dari sang pengantin perempuan sambil berlari ke luar kamar melintasi teman-teman Jali yang sedang bermain gaple dengan wajah-wajah penuh keheranan. Lalu muncul Jali dari kamar pengantinnya dengan hanya mengenakan celana pendek/kolor yang juga terlihat dengan wajah penuh keheranan melihat tingkah "istrinya".
Salah seorang kawannya; Udin menegur Jali dengan nada kesal, " Jali, elu apain "bini" lu, sampai dia histeris begitu, malu kan masih ada pihak keluarganya !"
" Gue juga ngga tau din, kenapa bini gue seperti itu, Gue baru juga buka baju pengantenan gue, lihat aja ni!". Jawab Jali sambil menunjukkan keadaan diri pada teman-temannya. Perhatian semua tertuju kearah Jali, dari ujung kepala hingga ke ujung kaki. Tak lama berselang, Udin memberi komentar, " Jali, pegimane bini lu engga histeris ngeliat itu !" telunjuk Udin menunjuk ke arah celana pendek/kolor yang dipakai Jali hasil jahitan Jali sendiri. Di sebelah muka kolor masih terlihat jelas tulisan Berat bersih 25 Kg.
" Bini lu ngebayangin isi dari celana kolor yang elu buat dari karung terigu itu !". lanjut Udin disertai dengan gelak tawanya dan teman-teman yang lainnya.
" Oh, iya Din, gue lupa balik waktu ngejaitnya !". Kata Jali dengan tersipu menyadari kesalahannya sambil terus menunduk masuk ke dalam kamarnya lagi.