Siang itu Tono dan Udin sedang berjalan di daerah Pasar Minggu usai menghadiri pertemuan reuni. Di tengah jalan mereka bertemu dengan kerumunan orang yang sedang melihat peristiwa kecelakaan di jalan raya. Tono, orang yang selalu ingin tahu, lalu dia berkata kepada Udin, "Din, kita lihat kerumunan itu yu!" ajaknya. "Ah, itukan cuma kecelakaan biasa, kenapa kita harus lihat sih!" Jawab Udin kesal. "Apalagi banyak orang berkerumun begitu, bagaimana kita bisa kedepan mereka.". lanjutnya.
"Tenang saja Din, pokoknya kita akan sampai paling depan dari mereka, elu ikutin gue ajah deh!" Tegas Tono sambil tangannya menarik tangan Udin untuk mengikutinya. Akhirnya Udin pun mengikuti Tono dengan berbagai pertanyaan dalam benaknya, bagaimana mereka dapat meliwati kerumunan orang itu untuk berada di jajaran depan.
Dengan serta merta Tono masuk kedalam kerumunan orang sambil tangannya menyibak orang-orang yang berada di depannya seraya berkata, "Awas, minggir, saya bapaknya !". Ucapan itu diulang-ulang Tono hingga mereka sampai dijajaran depan, di depan korban kecelakaan. Namun saat mereka berhadapan dengan korban yang terkapar di jalan itu, Tono berkata lirih, " Din, yang mati itu monyet !". Sambil balik badan berjalan menghindari tatapan orang-orang di sekelilingnya. "Ton, elu engga bawa pulang anak lu itu!", kata Udin mengejek. Tono yang terus berjalan tanpa menoleh pada orang-orang disekitarnya. Malu tuh!.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar